tiba-tiba aku tersentak akn suara dedaunan yang bergerak, bulan hanya mengintip dari balik awan . semoga hujan tak menyambutku saat aku belum sampai di rumahsetelah ku takar tenyata rumah masih 5 km lagi. dulu mungkin hanya 1 jam perjalanan atau kurang jika aku ingin cepat sampai atau lebih jika aku enggan pulang . tapi kini kulihat jam tanganku memperlihatkan angka 8nya dengan cerah seperti tak tahu perasaanku yang gundah.
saat ku terima kabar bahwa ayhku sakit dan sekarat aku tak tahu ekspresi apa yang kukeluarkan hingga teman kerjaku yang melihatku begitu kasihan padaku . sebenarnya aku tak merasakan apapun , hanya merasa aneh , sosok yang dulu tinggi menjulang dan kokoh itu terbaring tanpa daya dan membutuhkan orang lain untuk merawatnya.hingga atasanku hampir menangis dibuatnya karena ketidak-adaan ekspresiku .dia langsung memberiku iji untuk cuti yang selama ini tak pernak ku ambil . derak pepophonan , sayup-sayup suara gemericik air sungai dibalik bukit membuat malamku meriah , belum lagi suara hewan malam yang mengiringi simfoni yang sempurna ini sebentar lagi aku akan melewati pemakaman desa yang terkenal angker dan kotor karena tak ada yang merawatnya , sekalipun tanpa baterai ataupun lampu aku masih mengenali semua hal yang ada di sini pelatihanku sebagai anggota khusus kepolisian membuatku tak gentar menghadapi apapun . gerbangnya yang putih pucat dan hampir runtuh membuatnya semakin dijauhi , aku ingin saat aku mati nanti aku tak dimakamkan disinikarena pasti tak ada yang mau mendoakan ku , untuk sekedar mengintip saja enggan apalagi duduk berlama-lama memandang peristirahatan sambil mendoakan .
dulu saataku masih SMP dan mengikuti perkemahan wajib (kalau tidak wajib sudah pasti aku di larang oleh ayahku) saat jerit malam mereka mengusulkan tempat ini sebagai tempat eksekusi , sekalipun protes terus bergema tapi para senior yang semakin bersemangat tak ambil pusing . hingga saat eksekusi yaitu regu ku waktu itu yaitu regu melati yang beranggotakan 7 orang dan hanya aku yang berasal dari desa ini , sehingga mereka kurang tahu apa yang ada disini , hanya desas desus yang di tepis senior yang membuat mereka percaya bahwa tempat ini aman , dan lagi aku hanya diam saat mereka saling bertanya satu sama lain(karena aku lebih suka meniadakan diriku , mereka menganggapku tak ada) .aku hanya mengikuti mereka seperti bayangan , asalkan absensiku penuh aku tidak keberatan tidak mengeluarkan pendapatku . perjalanan dimulai dan berakhir di TPU Kali Bening , disini kami harus mencari tulisan yang tertempel dibatu nisan dan diberi lilin sebagai penerangnya , sebenarnya itu hal yang mudah mengingat waktu itu pemakaman inj masih cukup beredih dan terawat, tapi begitu kami masuk area dengan mmbaca doa yang diajarkan senior kami , semua seolah berubah , kami-aku sendiri- yakin kalau senior tidak akan tinggal diam dam menakuti kami tapi sebenarnya itu tidak perlu karena begitu masuk bulu kuduk dan sumua bulu yang bisa berdiri langsung tak bisa turun lagi . saat seorang nenek yang kebetulan ku jumpai menunjukkanku jalan menuju tempat itu , karena semua terpaku jadi teman-temanku hanya mengikutiku saja . saat kami sampai dibatu nisan itu aku merasa tak asing dan langambil kertas itu tampa basa-basi , saat aku menoleh pada sang nenek beliau hanya tersenyum , aku ingin memeluknya karena dia adalah nenek tetangga rumahku yang meninggalwaktu aku kelas 6 SD dan tak pernah absen setiap seminggu sekali pasti kukunjungi makamnya dan mendoakan nya. lalu tugas kami berakhirlah , ketika kami keluar , aku emndengar jeritan dari anak-anak yang lain yang mungkin melihat sesuatu .
sampai diluar pintu gerbang , teman-temanku masih terpaku dan lalu menangis , suasana jadi semakin meriah dan aku menikmatinya (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar