Senin, 05 Desember 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
ketika malam enggan berakhir
masih juga aku meniti jalan berbatu yang entah kapan akan berujung , satu-satu kenangan yang berkelebat di kepaku menjaga kesadaranku , dari kegelapan dan kesunyian , kutemukan pencerahan , bagaimana segala sesuatu bisa berjalan begitu saja tanpa aku mengerti , juga tentang Tuhan yang menjalankan semuanya tanpa ku tahu .
sayup mulai kudengar suara kentongan yang lagi-membuatku ingat , setiap jam berlalu selalu ada orang digardu ronda untuk memukul kentongan sesuai jumlah jam , masihkah berlaku ? sungguh tak ada perubahan .
sayup mulai kudengar suara kentongan yang lagi-membuatku ingat , setiap jam berlalu selalu ada orang digardu ronda untuk memukul kentongan sesuai jumlah jam , masihkah berlaku ? sungguh tak ada perubahan .
Jumat, 29 Oktober 2010
ketika malam enggan berakhir
tiba-tiba aku tersentak akn suara dedaunan yang bergerak, bulan hanya mengintip dari balik awan . semoga hujan tak menyambutku saat aku belum sampai di rumahsetelah ku takar tenyata rumah masih 5 km lagi. dulu mungkin hanya 1 jam perjalanan atau kurang jika aku ingin cepat sampai atau lebih jika aku enggan pulang . tapi kini kulihat jam tanganku memperlihatkan angka 8nya dengan cerah seperti tak tahu perasaanku yang gundah.
saat ku terima kabar bahwa ayhku sakit dan sekarat aku tak tahu ekspresi apa yang kukeluarkan hingga teman kerjaku yang melihatku begitu kasihan padaku . sebenarnya aku tak merasakan apapun , hanya merasa aneh , sosok yang dulu tinggi menjulang dan kokoh itu terbaring tanpa daya dan membutuhkan orang lain untuk merawatnya.hingga atasanku hampir menangis dibuatnya karena ketidak-adaan ekspresiku .dia langsung memberiku iji untuk cuti yang selama ini tak pernak ku ambil . derak pepophonan , sayup-sayup suara gemericik air sungai dibalik bukit membuat malamku meriah , belum lagi suara hewan malam yang mengiringi simfoni yang sempurna ini sebentar lagi aku akan melewati pemakaman desa yang terkenal angker dan kotor karena tak ada yang merawatnya , sekalipun tanpa baterai ataupun lampu aku masih mengenali semua hal yang ada di sini pelatihanku sebagai anggota khusus kepolisian membuatku tak gentar menghadapi apapun . gerbangnya yang putih pucat dan hampir runtuh membuatnya semakin dijauhi , aku ingin saat aku mati nanti aku tak dimakamkan disinikarena pasti tak ada yang mau mendoakan ku , untuk sekedar mengintip saja enggan apalagi duduk berlama-lama memandang peristirahatan sambil mendoakan .
dulu saataku masih SMP dan mengikuti perkemahan wajib (kalau tidak wajib sudah pasti aku di larang oleh ayahku) saat jerit malam mereka mengusulkan tempat ini sebagai tempat eksekusi , sekalipun protes terus bergema tapi para senior yang semakin bersemangat tak ambil pusing . hingga saat eksekusi yaitu regu ku waktu itu yaitu regu melati yang beranggotakan 7 orang dan hanya aku yang berasal dari desa ini , sehingga mereka kurang tahu apa yang ada disini , hanya desas desus yang di tepis senior yang membuat mereka percaya bahwa tempat ini aman , dan lagi aku hanya diam saat mereka saling bertanya satu sama lain(karena aku lebih suka meniadakan diriku , mereka menganggapku tak ada) .aku hanya mengikuti mereka seperti bayangan , asalkan absensiku penuh aku tidak keberatan tidak mengeluarkan pendapatku . perjalanan dimulai dan berakhir di TPU Kali Bening , disini kami harus mencari tulisan yang tertempel dibatu nisan dan diberi lilin sebagai penerangnya , sebenarnya itu hal yang mudah mengingat waktu itu pemakaman inj masih cukup beredih dan terawat, tapi begitu kami masuk area dengan mmbaca doa yang diajarkan senior kami , semua seolah berubah , kami-aku sendiri- yakin kalau senior tidak akan tinggal diam dam menakuti kami tapi sebenarnya itu tidak perlu karena begitu masuk bulu kuduk dan sumua bulu yang bisa berdiri langsung tak bisa turun lagi . saat seorang nenek yang kebetulan ku jumpai menunjukkanku jalan menuju tempat itu , karena semua terpaku jadi teman-temanku hanya mengikutiku saja . saat kami sampai dibatu nisan itu aku merasa tak asing dan langambil kertas itu tampa basa-basi , saat aku menoleh pada sang nenek beliau hanya tersenyum , aku ingin memeluknya karena dia adalah nenek tetangga rumahku yang meninggalwaktu aku kelas 6 SD dan tak pernah absen setiap seminggu sekali pasti kukunjungi makamnya dan mendoakan nya. lalu tugas kami berakhirlah , ketika kami keluar , aku emndengar jeritan dari anak-anak yang lain yang mungkin melihat sesuatu .
sampai diluar pintu gerbang , teman-temanku masih terpaku dan lalu menangis , suasana jadi semakin meriah dan aku menikmatinya (bersambung)
saat ku terima kabar bahwa ayhku sakit dan sekarat aku tak tahu ekspresi apa yang kukeluarkan hingga teman kerjaku yang melihatku begitu kasihan padaku . sebenarnya aku tak merasakan apapun , hanya merasa aneh , sosok yang dulu tinggi menjulang dan kokoh itu terbaring tanpa daya dan membutuhkan orang lain untuk merawatnya.hingga atasanku hampir menangis dibuatnya karena ketidak-adaan ekspresiku .dia langsung memberiku iji untuk cuti yang selama ini tak pernak ku ambil . derak pepophonan , sayup-sayup suara gemericik air sungai dibalik bukit membuat malamku meriah , belum lagi suara hewan malam yang mengiringi simfoni yang sempurna ini sebentar lagi aku akan melewati pemakaman desa yang terkenal angker dan kotor karena tak ada yang merawatnya , sekalipun tanpa baterai ataupun lampu aku masih mengenali semua hal yang ada di sini pelatihanku sebagai anggota khusus kepolisian membuatku tak gentar menghadapi apapun . gerbangnya yang putih pucat dan hampir runtuh membuatnya semakin dijauhi , aku ingin saat aku mati nanti aku tak dimakamkan disinikarena pasti tak ada yang mau mendoakan ku , untuk sekedar mengintip saja enggan apalagi duduk berlama-lama memandang peristirahatan sambil mendoakan .
dulu saataku masih SMP dan mengikuti perkemahan wajib (kalau tidak wajib sudah pasti aku di larang oleh ayahku) saat jerit malam mereka mengusulkan tempat ini sebagai tempat eksekusi , sekalipun protes terus bergema tapi para senior yang semakin bersemangat tak ambil pusing . hingga saat eksekusi yaitu regu ku waktu itu yaitu regu melati yang beranggotakan 7 orang dan hanya aku yang berasal dari desa ini , sehingga mereka kurang tahu apa yang ada disini , hanya desas desus yang di tepis senior yang membuat mereka percaya bahwa tempat ini aman , dan lagi aku hanya diam saat mereka saling bertanya satu sama lain(karena aku lebih suka meniadakan diriku , mereka menganggapku tak ada) .aku hanya mengikuti mereka seperti bayangan , asalkan absensiku penuh aku tidak keberatan tidak mengeluarkan pendapatku . perjalanan dimulai dan berakhir di TPU Kali Bening , disini kami harus mencari tulisan yang tertempel dibatu nisan dan diberi lilin sebagai penerangnya , sebenarnya itu hal yang mudah mengingat waktu itu pemakaman inj masih cukup beredih dan terawat, tapi begitu kami masuk area dengan mmbaca doa yang diajarkan senior kami , semua seolah berubah , kami-aku sendiri- yakin kalau senior tidak akan tinggal diam dam menakuti kami tapi sebenarnya itu tidak perlu karena begitu masuk bulu kuduk dan sumua bulu yang bisa berdiri langsung tak bisa turun lagi . saat seorang nenek yang kebetulan ku jumpai menunjukkanku jalan menuju tempat itu , karena semua terpaku jadi teman-temanku hanya mengikutiku saja . saat kami sampai dibatu nisan itu aku merasa tak asing dan langambil kertas itu tampa basa-basi , saat aku menoleh pada sang nenek beliau hanya tersenyum , aku ingin memeluknya karena dia adalah nenek tetangga rumahku yang meninggalwaktu aku kelas 6 SD dan tak pernah absen setiap seminggu sekali pasti kukunjungi makamnya dan mendoakan nya. lalu tugas kami berakhirlah , ketika kami keluar , aku emndengar jeritan dari anak-anak yang lain yang mungkin melihat sesuatu .
sampai diluar pintu gerbang , teman-temanku masih terpaku dan lalu menangis , suasana jadi semakin meriah dan aku menikmatinya (bersambung)
Rabu, 27 Oktober 2010
ketika malam enggan berakhir
sore menjelang petaqng semburat merah matahari masih menyisakan keremangan yang menakutkan,indah m,emang jika kita memandang keangkasa saat matahari bersiap tidur berselimut awan,tapi ketika kutatap setapak demi se3tapak jalanku aku tak tahu kapan malam ini mulai menjelang atau bahkan berakhir
ini adalah saat penantian lamaku saat kusinggahi tempat kelahiranku setelah berpuluh bulan ku tinggalkan,masih saja tak berbekas ketika kucari memori indah yang mungkin terselip di benakku.mungkin saat ku tinggalkan kampung halamanku ini yang terasa olehku adalah rasa lega,lepas dari belenggu tirani yang sejak lahir menggerogoti diriku,
adalah ayahku, seorang yang kusadari membentuk karakterku kini.setelah ibuku pergi yang hingga kini tak ku ketahui kabarnmya,ayahku bak seorang bajingan yang takpernah kehilangan akal untuk menyiksaku.dari dialah aku tahu kekuatan fisikku melebihi anak gadis seusiaku dulu.pukulan , tendangan , dan tamparan adalah menu keseharianku.lalu aku mulai membentuk mekanbisme pertahanan diri untuk melindungi agar aku tak perlu terluka parah.
nenek tetangga rumahku mengajariku berbagai tanaman obat didaerah sekitarku yang mudah ditemukan agar aku dapat mengobati diriku sendiri,dan nyatanya kini berhasil,jika orang melihatku dipukuli,mereka akn berfikir mengapa aku tak lari saja dari rumah,jawabanku: aku masih ingin menyelesaikan sekolahku yang dibiayai ayahku sampai smp,jika mereka berkata mengapa tak ku lawan saja,jawabku : perbandingan tenaga kami terlalu besar,ayahku yang seorang supior angkot bertabiat paling buruk bahkan peman terminal saja takluk padanya,apalagi aku.
lagi, ku tepekuri jalan aspal berbatu yang sudah tak utuh lagi karena kualitasnya jelek,bodohnya aku berfikir desaku tlah berubah dan ada lampu untuk menerangi jalan masuk kampung,ternyata prasangka baikku tak terbukti.dulu saat aku meninggalkan desa tercintaku, jalan masih berbatu cadas dan becek , keterbatasan listrik yang masuk desaku membuat orang malas membuat tiang listrik berisi lampu, menurut mereka itu hanya menghabiskan tenaga.kehidupa desa tidaklah semudah dan seramah yang orang sangka,kebencian, cemburu dan pertentangan lebih sering mewarnai kampung merah darah, begitu sebutanku karena tak ada kedamain lagi yang bisa kutemui.
jalan masih berlubang dan kegelapan semakin menyelimutiku tapi sepertinya waktu t5ak pernah mau beranjak maju... tetap pada detik yang sama ketika kuturun dari angkutan yang membawaku tadi.(bersambung)
ini adalah saat penantian lamaku saat kusinggahi tempat kelahiranku setelah berpuluh bulan ku tinggalkan,masih saja tak berbekas ketika kucari memori indah yang mungkin terselip di benakku.mungkin saat ku tinggalkan kampung halamanku ini yang terasa olehku adalah rasa lega,lepas dari belenggu tirani yang sejak lahir menggerogoti diriku,
adalah ayahku, seorang yang kusadari membentuk karakterku kini.setelah ibuku pergi yang hingga kini tak ku ketahui kabarnmya,ayahku bak seorang bajingan yang takpernah kehilangan akal untuk menyiksaku.dari dialah aku tahu kekuatan fisikku melebihi anak gadis seusiaku dulu.pukulan , tendangan , dan tamparan adalah menu keseharianku.lalu aku mulai membentuk mekanbisme pertahanan diri untuk melindungi agar aku tak perlu terluka parah.
nenek tetangga rumahku mengajariku berbagai tanaman obat didaerah sekitarku yang mudah ditemukan agar aku dapat mengobati diriku sendiri,dan nyatanya kini berhasil,jika orang melihatku dipukuli,mereka akn berfikir mengapa aku tak lari saja dari rumah,jawabanku: aku masih ingin menyelesaikan sekolahku yang dibiayai ayahku sampai smp,jika mereka berkata mengapa tak ku lawan saja,jawabku : perbandingan tenaga kami terlalu besar,ayahku yang seorang supior angkot bertabiat paling buruk bahkan peman terminal saja takluk padanya,apalagi aku.
lagi, ku tepekuri jalan aspal berbatu yang sudah tak utuh lagi karena kualitasnya jelek,bodohnya aku berfikir desaku tlah berubah dan ada lampu untuk menerangi jalan masuk kampung,ternyata prasangka baikku tak terbukti.dulu saat aku meninggalkan desa tercintaku, jalan masih berbatu cadas dan becek , keterbatasan listrik yang masuk desaku membuat orang malas membuat tiang listrik berisi lampu, menurut mereka itu hanya menghabiskan tenaga.kehidupa desa tidaklah semudah dan seramah yang orang sangka,kebencian, cemburu dan pertentangan lebih sering mewarnai kampung merah darah, begitu sebutanku karena tak ada kedamain lagi yang bisa kutemui.
jalan masih berlubang dan kegelapan semakin menyelimutiku tapi sepertinya waktu t5ak pernah mau beranjak maju... tetap pada detik yang sama ketika kuturun dari angkutan yang membawaku tadi.(bersambung)
Selasa, 26 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
