sore menjelang petaqng semburat merah matahari masih menyisakan keremangan yang menakutkan,indah m,emang jika kita memandang keangkasa saat matahari bersiap tidur berselimut awan,tapi ketika kutatap setapak demi se3tapak jalanku aku tak tahu kapan malam ini mulai menjelang atau bahkan berakhir
ini adalah saat penantian lamaku saat kusinggahi tempat kelahiranku setelah berpuluh bulan ku tinggalkan,masih saja tak berbekas ketika kucari memori indah yang mungkin terselip di benakku.mungkin saat ku tinggalkan kampung halamanku ini yang terasa olehku adalah rasa lega,lepas dari belenggu tirani yang sejak lahir menggerogoti diriku,
adalah ayahku, seorang yang kusadari membentuk karakterku kini.setelah ibuku pergi yang hingga kini tak ku ketahui kabarnmya,ayahku bak seorang bajingan yang takpernah kehilangan akal untuk menyiksaku.dari dialah aku tahu kekuatan fisikku melebihi anak gadis seusiaku dulu.pukulan , tendangan , dan tamparan adalah menu keseharianku.lalu aku mulai membentuk mekanbisme pertahanan diri untuk melindungi agar aku tak perlu terluka parah.
nenek tetangga rumahku mengajariku berbagai tanaman obat didaerah sekitarku yang mudah ditemukan agar aku dapat mengobati diriku sendiri,dan nyatanya kini berhasil,jika orang melihatku dipukuli,mereka akn berfikir mengapa aku tak lari saja dari rumah,jawabanku: aku masih ingin menyelesaikan sekolahku yang dibiayai ayahku sampai smp,jika mereka berkata mengapa tak ku lawan saja,jawabku : perbandingan tenaga kami terlalu besar,ayahku yang seorang supior angkot bertabiat paling buruk bahkan peman terminal saja takluk padanya,apalagi aku.
lagi, ku tepekuri jalan aspal berbatu yang sudah tak utuh lagi karena kualitasnya jelek,bodohnya aku berfikir desaku tlah berubah dan ada lampu untuk menerangi jalan masuk kampung,ternyata prasangka baikku tak terbukti.dulu saat aku meninggalkan desa tercintaku, jalan masih berbatu cadas dan becek , keterbatasan listrik yang masuk desaku membuat orang malas membuat tiang listrik berisi lampu, menurut mereka itu hanya menghabiskan tenaga.kehidupa desa tidaklah semudah dan seramah yang orang sangka,kebencian, cemburu dan pertentangan lebih sering mewarnai kampung merah darah, begitu sebutanku karena tak ada kedamain lagi yang bisa kutemui.
jalan masih berlubang dan kegelapan semakin menyelimutiku tapi sepertinya waktu t5ak pernah mau beranjak maju... tetap pada detik yang sama ketika kuturun dari angkutan yang membawaku tadi.(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar